Berkenalan Teori Mendel Dengan Kelinci
Pagi itu Daffa begitu bersemangat memamerkan anak-anak kelici imut piaraannya yang baru lahir. Kelinci gondrong, begitu Daffa dan sang adik Fadia menyebut kelinci anggora kesayangannya, telah menjadi ibu dari 7 ekor anak kelinci berwarna-warni. Ya ya.. yang bikin gemes terutama karena suara canda gembira dari mereka berdua mendapatkan piaraan mungil baru itu.
Iseng, kusodorkan buku tulis kecil agar Daffa mulai belajar mencatat ongkos dari hobinya piara kelinci tersebut. Anak 8 tahun itu setuju, dan di bantu adiknya yang 5 thn mulai membuat catatan. Meski TK, sang adik sudah mampu baca tulis. Keriuhan baru pun melanda kandang kelinci itu…
Siang menjelang sore, buku kecil itu telah berisi catatan pengeluaran pembelian pakan. Rajin juga mereka berdua. Namun tak dinyana ternyata, mereka juga mencatat segala hal tentang kelincinya dibuku itu, baik ciri-ciri tubuh, warna, jenis, memberi mereka nama termasuk si bayi kelinci dan silsilahnya. Pertanyaan mereka yang pertama yakni kenapa muncul anak cici berwarna putih dengan corak hitam?
Wuih..mereka telah berkenalan dengan teori Mendel. Sayangnya aku wis lupa hehe…
Sebenarnya Mendel bukanlah orang pertama yang berkecimpung dalam genetika. Dari berbagai situs diketahui, sejumlah percobaan genetika telah banyak dilakukan pada masa sebelum Mendel. Percobaan-percobaan itu antara lain. Pembuatan Raphanobrassica melalui persilangan lobak dan kubis pada abad ke-17 oleh Köhlreuter, seorang pemulia sayuran berkebangsaan Jerman, untuk menghasilkan tanaman yang menghasilkan umbi dan krop kubis sekaligus, meskipun tidak berhasil. Penemuan dan penjelasan tentang pembuahan berganda pada tumbuhan berbunga (Magnoliophyta) oleh E. Strassburger (1878) dan S. Nawaschin (1898).
Entah kenapa Mendel yang dipopulerkan sebagai ‘penemu’ konsep hereditas ini?
Hereditas berarti penurunan sifat – sifat genetik dari orang tua kepada anaknya.
Gen adalah pembawa sifat (Mendel menyebutnya ‘faktor’). Alel adalah ekspresi alternatif dari gen dalam kaitan dengan suatu sifat. Setiap individu disomik selalu memiliki sepasang alel, yang berkaitan dengan suatu sifat yang khas, masing-masing berasal dari tetuanya. Status dari pasangan alel ini dinamakan genotipe. Sifat yang terkait dengan suatu genotipe disebut fenotipe.
Contoh :
- Sifat warna bulu coklat pada kelinci adalah fenotipe; disimbolkan CC; maka CC adalah genotype.
- Sifat bulu gondrong kelinci adalah fenotipe; disimbolkan GG; maka GG adalah genotype.
Apabila suatu individu memiliki pasangan alel sama, genotipe individu itu bergenotipe homozigot, apabila pasangannya berbeda, genotipe individu yang bersangkutan dalam keadaan heterozigot. Genotype homozigot CC dan GG kita sebut homozigot dominan, sedang cc (putih, misalnya) dan gg (bulu pendek, misalnya) adalah homozigot resesif.
1. Monohibrid
Ialah suatu persilangan pembastaran dengan satu sifat beda. Misalnya perkawinan antara kelinci bulu pendek dan bulu gondrong.
2. Dihibrid
Ialah suatu persilangan (pembastaran) dengan dua sifat beda. Misalnya persilangan antara kelinci coklat bulu pendek dengan kelinci putih bulu gondrong.
Kembali ke Teori Mendel sebentar, untuk membuktikan hukum mendel II yakni prinsip berpasangan secara bebas, mendel melakukan eksperimen dengan pembastaran tanaman pisum sativum bergalur murni dengan memperhatikan dua sifat beda, yaitu biji bulat berwarna kuning dengan galur murni berbiji kisut, berwarna hijau. Gen B (bulat) dominan terhadap b (kisut), dan K (kuning ) dominan terhadap k (hijau).
Skema persilangan
P1 : BBKK >< bbkk
(bulat, kuning) (kisut, hijau)
Angka – angka perbandingan fenotipe F2 monohibrid = 3 :1, sedangkan perbandingan fenotipe F2 dihibrid = 9 : 3 : 3 : 1
Ini bila ditulis dengan kata-kata artinya= (dominan) : (dominan-resesif) : (resesif-dominan) : (resesif)
3. Perkawinana resiprok
Penyilangan resiprok adalah penyilangan gamet jantan dan gamet betina dipertukarkan sehingga menghasilkan keturunan yang sama
4. Backcross dan Testcross
Backcross adalah perkawinan antara individu F1 dengan salah satu induknya (induk dominan dan resesif). Tujuan backcross adalah untuk mencari genotip orang tua.
Testcross adalah perkawinan antara F1 dengan salah satu induk yang resesif. Testcross disebut juga perkawinan pengujian (uji silang) karena bertujuan untuk mengetahui apakah suatu individu bergenotipe homozigot (bergalur murni) atau heterozigot. Jika hasil testcross menunjukkan perbandingan fenotipe keturunan yang memisah 1 : 1, maka dapat disimpulkan bahwa individu yang diuji tersebut adalah bukan galur murni , berarti heterozigot. Sedangkan jika hasil testcross 100% berfenotipe sama berarti homozigot.
Berikut gen kelinci yang sudah dipetakan di dunia yang menghasilkan warna-warni bulu kelinci. Meski demikian sesungguhnya ada ribuan pola warna yang memungkinkan.
| Gene | Name | Description | Examples |
| A | Agouti pattern of banded hair | Has tan, fawn, or white at eye circles, triangle at nape of neck, feet, legs, and inside of ears. Has white belly. | Chestnut, |
| Opal, | |||
| Lynx, | |||
| and Chinchilla | |||
| Netherland Dwarfs | |||
| at | Tan pattern | Solid color instead of banded hair. Has tan, fawn, or white at eye circles, triangle at nape of neck, feet, legs, inside of ears, and belly. | Silver Marten, |
| Tan, | |||
| Otter Rex | |||
| a | Self-Color (non-agouti) | The hair lacks the banding, there is generally one color throughout. | New Zealand Black, |
| American Blue, | |||
| Chocolate Havana | |||
| Gene | Name | Description | Examples |
| B | Black | In agouti (A_), produces the black band. | |
| In self (solids) (aa), produces solid black color. | With A_: Chestnut and Chinchilla Netherland Dwarfs | ||
| With at_: Black Silver Marten | |||
| With aa: New Zealand Black | |||
| b | Brown (Chocolate) | In agouti (A_), produces a brown band instead of black. | |
| In self (solids) (aa), produces solid chocolate color. | With A_: Chocolate Chestnut Netherland Dwarf. | ||
| With at_: Chocolate Silver Marten. | |||
| With aa: Chocolate Netherland Dwarf. | |||
| Gene | Name | Description | Examples |
| C | Full color development | Allows all 4 dark and all 3 yellow pigments to be present. Completely dominant. | New Zealand Black |
| cchd | Dark Chinchilla | Allows all 4 dark and only 1 of the 3 yellow pigments to be present. Area becomes white or pearl. Completely dominant over the following c genes. | Chinchilla |
| cchl | Light Chinchilla (Shading) | Allows 2 of the 4 dark and none of the 3 yellow pigments to be present. This lightens the color to sepia brown. Causes shading effects. Incompletely dominant over the following c genes. Shading is fine-tuned with the color intensifier genes. | Sable and smoke pearl Netherland Dwarfs |
| ch | Himalayan | Causes dark extremities (points) which include the ears, nose, feet, and tail. Produces red eyes with other ch or c. Incompletely dominant over c. | Californian, Seal Point. |
| c | Albino | Blocks the expression of all other color genes, producing a white rabbit with red eyes. | New Zealand White |
| Ruby-Eyed White (rew) | |||
| Gene | Name | Description | Examples |
| D | Dense coat color | Produces the full color shade. Causes the eye to be brown. | New Zealand Black |
| d | Diluted coat color | Changes black to blue, chocolate to lilac, chestnut to opal, orange to fawn. Causes eye to be gray-blue. | American Blue |
| Gene | Name | Description | Examples |
| Es | Steel | With agouti, covers the middle band with dark pigment. Darkens the agouti type landmarks: eye circles, triangle at nape of neck, feet, legs, and inside of ears. Leaves white guard hairs (ticking). | Black, Chestnut, and Chinchilla Steel |
| E | Normal Extension of dark pigment | Working with the C series genes, allows the complete expression of the dark brown pigment. | New Zealand Black |
| ej | Japanese brindling | Works with Agouti gene to cause the black and yellow colors to be arranged in areas instead of individual hairs in a mosaic pattern. | Rhinelander (with the Enen genes), |
| Harlequin | |||
| e | Non-extension of the dark pigment | Working with the C gene series and the rufus modifiers, this gene removes all or most of the dark pigment, leaving yellow, orange or white. | New Zealand Red, |
| Sable Point Dwarf, | |||
| Frosted Pearl Dwarf | |||
| Gene | Name | Description | Examples |
| En | English Spotting | Produces spots (broken patterns). Enen is normal spotting. EnEn causes spotting only in the head. enen causes no spotting. Works with the plus/minus modifiers to produce more or less spotting. Can also work with Du and V genes. | English Spot, |
| Broken Rex | |||
| en | Self-Colored | Causes normal coloring without spotting. | New Zealand Red |
| Gene | Name | Description | Examples |
| Du | Absence of Dutch Pattern | DuDu causes no dutch patterns. Dudu causes partial white/colored patterns. dudu causes white belted dutch pattern. Works with the plus/minus modifiers to produce more or less color pattern. Can also work with the En and V genes. | DuDu: Solid color rabbits |
| Dudu: Hotot (with EnEn and a lot of minus modifiers) | |||
| dudu:Dutch | |||
| du | White Belt Dutch Pattern | See Du for description | Dutch |
| Gene | Name | Description | Examples |
| V | Vienna White | VV: Normal coat color. | |
| Vv: Dutch type markings on colored coat and colored spots on white coat. | |||
| The V gene can work with the plus/minus modifiers and the Du and En genes. | |||
| vv: Causes no color to express itselt and produces an all white rabbit with blue eyes. | VV: Almost all rabbits, | ||
| Vv: no known breeds, | |||
| vv: Blue-Eyed White | |||
| v | Vienna White | See V for description. | Blue Eyed White (bew) |
| Gene | Name | Description | Examples |
| W | Normal Width of the middle yellow or white agouti band | Normal coloring | Chinchilla |
| w | Doubles Width of the middle yellow or white agouti band | Colors the agouti pattern areas: eye circles, triangle at nape of neck, feet, legs, inside of ears, and belly. | New Zealand Red |
| Gene | Name | Description | Examples |
| Si | Normal Color | Si_: has no effect on color | New Zealand Black |
| si | Silvered Color | Produces silver white hairs and silver tipped hairs intermingled with regular hair throughout the coat. | Silver, |
| Silver Fox | |||
Dari suatu situs dapat dilihat beberapa contoh tentang bagaimana gen bekerja sama untuk menghasilkan varietas tertentu.
Tampaknya gen pengubah harus diperhitungkan untuk menghasilkan warna tertentu atau pola-pola warna yang dicari.
| Ruby-Eyed White | __ | __ | cc | __ | __ | __ | |
| Blue-Eyed White | __ | __ | __ | __ | __ | __ | Vv |
| Black | aa | B_ | C_ | D_ | E_ | W_ | |
| Blue | aa | B_ | C_ | dd | E_ | W_ | |
| Chocolate | aa | bb | C_ | D_ | E_ | W_ | |
| Lilac | aa | bb | C_ | dd | E_ | W_ | |
| Chestnut Agouti | A_ | B_ | C_ | D_ | E_ | W_ | |
| Cinnamon | A_ | bb | C_ | D_ | E_ | W_ | rufus-mod |
| Chinchilla | A_ | B_ | cchd_ | D_ | E_ | W_ | |
| Copper | A_ | B_ | C_ | D_ | E_ | __ | rufus-mod |
| Red | A_ | B_ | C_ | D_ | ee | ww | rufus-mod |
| Lilac Point | aa | bb | cchl_ | dd | ee | W_ | color-mod |
| Blue Tortoiseshell | aa | B_ | C_ | dd | ee | W_ | |
| Black Tan | at_ | B_ | C_ | D_ | E_ | ww | rufus-mod |
| Chocolate Silver Marten | at_ | bb | cchd_ | D_ | E_ | W_ | |
| Spotted – White/Black/Gold | A_ | B_ | C_ | D_ | ej_ | Enen | |
| Steel Siamese Sable | aa | B_ | cchl_ | D_ | EsE | W_ | silver ticking |
Jenis kelinci gondrong seperti milik Daffa dan Fadia itu memiliki warna yang tidak padat atau pudar seperti warna pastel. Di suatu situs disebutkan bahwa ini disebabkan secara umum, kelinci yang memiliki rambut panjang, seperti Angoras, telah diencerkan ekspresi warna. Kelinci yang memiliki rambut pendek, seperti Rex, memiliki ekspresi warna lebih intens. Hal ini diduga karena, mengingat latar belakang genetik yang sama, jumlah butir pigmen dalam rambut adalah sama. Dalam rambut panjang butiran pigmen tersebar lebih jauh terpisah dari satu sama lain, memberikan warna pastel. Dalam rambut pendek, butiran pigmen yang dikemas lebih dekat bersama-sama, membuat warna yang lebih intens.
Lantas bagaimana kombinasi warna pada kelinci Daffa dan Fadia?
Kemungkinan munculnya kombinasi warna dari ke 7 anak kelinci tersebut menurun dari induk. Baik bapak kelinci yang berbulu pendek maupun ibu kelinci yang berambut gondrong, keduanya memiliki warna: coklat, putih, dan hitam.
Secara matematis, jumlah kombinasi yang mungkin muncul adalah 7 kombinasi warna. Komposisi warna tunggal:double:triple=3:3:1.
Atau jika diperhitungkan juga bulu gondrong dan bulu pendek dari kedua orangtuanya akan tercipta 14 kemungkinan kombinasi.
Coba tebak apa warna anak kelinci imut itu dan berapa ekor yang akan berambut gondrong?
RRJ berkata,
Oktober 21, 2009 pada 6:04 am
NIce posting & usefull. Thanks.
iwang berkata,
Oktober 21, 2009 pada 9:22 am
Terimakasih telah membaca tulisan ini, meski baru saja selesai aku ketik.
Anda hobies kelinci?
Salam kenal yak…
pakde agus berkata,
Desember 13, 2009 pada 1:53 am
Wah wah ponakan2 yg lucu n pinter2 ini ternyata rajin juga berternak kelinci, siapa tahu bisa nemuin varietas baru tuk species kelinci yang unggul dan berbudidaya nilai tambah, he he ….
iwang berkata,
Desember 14, 2009 pada 10:35 am
lucuan mana antara ponakan sama kelincinya? hehe…
koq bisa tau di sini? wah ketahuan deh
Salam buwat smuwa keluwarga pakde agus ya..
dan sukses selalu buwat pakde agus
liburan besuk itu ke jogja ndak?
Rovicky berkata,
Januari 7, 2010 pada 3:07 pm
KAih gambarnya donk. Mana kelincio Daffa dan Fadia jadi bisa liat “bukti”-nya
iwang berkata,
Februari 3, 2010 pada 9:18 am
Wah kok lupa melulu yak, rencana kasih gambar seperti usul Pakdhe RDP.
Padahal pas mo pulang inget, tapi pas brangkat lupa lagi.
Lha klo di rumah males maenan internet sih….
Moga2 minggu depan gak lupa lagi hehe…
Nina berkata,
Oktober 16, 2010 pada 3:26 pm
nice posting…d share ya…
patra berkata,
November 21, 2011 pada 10:50 am
hukum mndelx klo bza dtmbahkn dengn penyimpanganx