Melangkah Menjadi Investor?
Ada baiknya kita mulai memahami bagaimana melangkah menjadi investor secara benar. Ada banyak pendorong dan seringkali bersifat kasual bagi masing-masing individu. Sebagai misal adanya keinginan menambah pendapatan sampingan, ingin berhenti bekerja pada orang lain dan memanfaatkan asset yang dimiliki, terjebak iming-iming yang menyebabkan menjadi investor dadakan, atau juga sudah menjelang pensiun.
Apa itu investasi dan bagaimana mulai melangkah? Berikut ringkasannya.
Baca entri selengkapnya »
Swing Trader
Dalam investasi saham seringkali kita menemui istilah Swing Trader. Apakah yang dimaksud dengan istilah ini dan bagaimana penerapannya dalam transaksi saham?
Baca entri selengkapnya »
Paradok: Menjadi Investor
Dari berbagai buku di pasaran, seringkali ditemui anjuran supaya pindah kuadran agar bisa ‘bebas finansial’. Para pekerja/karyawan dianjurkan untuk beralih menjadi investor, sehingga ‘uanglah yg akan bekerja utk mereka (para pekerja)’. Sebuah doktrin yg begitu indah.
Luarbiasanya, pernyataan itu jarang di protes. Mereka tidak menyadari bahwa telah membiarkan satu kaki berdiri diatas khayalan. Khayalan? Jangan-jangan bukan kayalan dan hanya aku yg tidak mau berpikir maju?!
Begini alasanku…
Pertama, bahwa menjadi investor berarti ada syarat mutlak yg harus dipenuhi yakni ‘punya modal’ utk diputar. Betul?!
Nah tentulah sudah merupakan prestasi bila modal itu bisa dikumpulkan dari kelebihan pendapatan bulanannya (bukan dari lotre atau warisan). Kalau mampu menyisihkan uang untuk ditabung, berarti pendapatannya relatif besar. Dan kalau pendapatannya besar kenapa harus keluar dari pegawai dan jadi investor?
Kedua, Menjadi Investor TIDAK lebih mudah dari pada jadi pegawai.
Seseorang haruslah memiliki ilmu dan kesempatan sehingga mendapatkan return yg abnormal (diatas rata-rata). Jadi sekiranya meninggalkan gaji 3 jt maka dgn modal 10 jt, investor hrs mendapatkan imbal hasil 360% pa. Piye carane (gimana caranya) bisa dapet segitu dgn hanya ongkang-ongkang kaki?
Lha kalau bangkrut, gimana?
Kuadran Kiyosaki kemungkinan hanyalah areal abu-abu. Maka jika kita mau berpijak secara normal seharusnya perpindahan kuadran hanyalah kesempatan emas yg tersedia di depan kita. Berprofesi sebagai dokter, bidan atau konsultan kan juga sudah ‘penak’ secara ekonomi, lha kok musti memilih pindah jadi investor? Demikianpun sebagai pegawai atau sebagai pemilik perusahaan maka nggak cukup alasan utk pindah jadi investor kan?
Jadi pindah ke kuadran investor utk mencapai financial freedom bisa jadi hanyalah iming-iming belaka.
Dan bila kita balik ke alasan pertama, akan muncul paradok “Untuk menjadi investor harus punya banyak uang. Tetapi kalau sudah punya banyak duit kenapa pula musti investasi?”
Kapan menikmati hasilnya?
Jadi gimana donk? Ada yg bisa beri penjelasan?
LAPINDO……sesi ke-dua.
Ketika masa awal lumpur panas keluar dari sumur Banjarpanji-1 milik Lapindo, aku pernah meramal (di milis Kampung) bahwa kasus ini bakal mirip dengan krisis yang disebabkan ekonom (banker). Ya…memang saat itu tanpa data, ramalan itu terlalu gegabah. Kini kenyataan sudah bicara, uang pajak rakyat melalui APBN digunakan untuk menanggulangi lumpur haram itu.
Undur-undur bisa menjadi obat?
Kembali kereta yang membawaku ke Jogja membawa ‘cerita rakyat’. Kali ini cerita tetang undur-undur. Seorang Bapak berumur 60-an yang mengaku istrinya 4 dan duduk diseberangku itu menceritakan khasiat obat yang berasal dari undur-undur, menanggapi keluhan seorang ibu-ibu terhadap penyakit stroke suaminya.
Selain stroke, khasiat lainnya sebagai pereda diabetes dan ngilu tulang.
Dulu, saya memang pernah mendengar bahwa para sinshe cina menggunakan undur-undur juga. Dan harganyapun terbilang cukup mahal. Namun sampai sekarang aku belum pernah mendengar bhw undur-undur ini sudah pernah di uji.
Jadi khasiatnya seperti halnya berbagai obat alternatif lainnya, diserahkan sepenuhnya kepada pembaca.
Apa Issue Terhangat Kuartal I thn 2007?
Hari minggu siang Jogja hujan grimis, aku asyik ngobrol ngalor-ngidul dan entah bagaimana sampai pda kasus2 terhangat kuartal satu thn 2007 di era pemerintahan SBY ini. Sampai teh anget dan cemilan habis terpaksa pembicaraan di tutup.
Hehehe..jane aku yo wis capek habis berenang…..
Besar Mana Masalah di Tubuh Bulog Atau Masalah perBerasan?
Kasus yang menimpa tubuh Bulog sampai kini masih dalam proses….
Aku sebenarnya pengin nulis uneg-uneg tentang kasus di Bulog belakangan ini, tapi bingung mau mulai darimana. Tapi sebelum sampai nulispun aku bingung, besar mana masalah di tubuh Bulog dan permasalahan perberasan di Indonesia.
Sultan Djogja Ogah Mimpin Rakyat Lagi
Cukup mengagetkan….
Dan penolakan Sultan Jogja utk kembali menjabat sbg gubernur mendatang menimbulkan berbagai tanya dan mendapat banyak tanggapan. Ada yg memuji sebagai langkah negarawan, ada yg berusaha agar Sultan menarik keputusannya dan ada yg hanya gelo. Namun demikian Sultan sendiri justru tidak mengemukakan alasan secara jelas, dan hanya menyatakan bahwa apa yg dilakukan adalah ‘hak’.
IPDN Jatinangor butuh tumbal tahunan, kenapa?
Aku nggak habis pikir kenapa di sekolah yg bertujuan mencetak aparatur negara itu penuh dgn aroma kekerasan. Ya IPDN di Jatinagor itu sepertinya menjadi pusat keliaran dan kebrutalan.
Lha kok bisa kayak gitu ya? Njuk gimana nanti kalau mereka jadi aparat negara, apa rakyatnya juga mau dipukulin ditendang dan dicaci maki? Apa ndak sedikitpun terlintas bahwa IPDN itu dibiayai oleh pajak?
Ya memang, membicarakan IPDN memang bisa menimbulkan respon reaktif. Di kantor-kantor, dikampung, di kota-kota (demonstrasi di solo, misalnya) menggambarkan masyarakat seperti terhenyak. Padahal, kematian Cliff Muntu itu bukan pertama. Coba saja ketik di Google dgn kata IPDN, pasti akan ditemui banyak peristiwa yg di dominasi kekerasan!. Apakah ini membuat bangga para pembayar pajak?
Kenapa sih siswa IPDN ini suka kekerasan? Bukankah semestinya di suatu Institut mereka seharusnya mengagungkan tradisi dan kultur akedemis?
Kebebasan Finansial ala Petani
Dambaan terhadap “kebebasan finansial” tidak saja milik orang-orang dari negara maju, tapi juga para eksekutif muda negara kita. Mereka menginginkan kerja yang menghasilkan uang –luarbiasa- banyak dan akhirnya bisa menikmati hasil kekayaannya ketika masih muda. Pergi berlibur nonstop misalnya ke Hawai, pagi jalan santai, sore renang, malam ke kafe. Atau bisa ikut tour ala “Wild On” (dugem dan aksi erotisss).
Suatu impian yg indah nikmat…