Mengagas Pembubaran Kementrian Pendidikan

Maret 30, 2007 at 7:31 am (Opini)

Mudahnya, kalau menginginkan kualitas tinggi pada pendidikan maka selayaknya akan tinggi pula biaya yg musti dikeluarken. Ini tdk berbeda dgn palsapah kuno “ono rego ono rupo”. Biaya yg dikeluarken ini digunaken utk penyediaan segala macem sarana prasarana pendidikan dan … peningkatan ‘kualitas’ bpk/ibu guru.

Dus dgn anggapan ini, pendirian lembaga pendidikan mustinya merupakan investasi yg mahal. Namun kasunyatan tdk selalu demikian. Banyak yayasan pendidikan yg banyak memiliki guru cabutan dan prasarana cuman nebeng alias ala kadarnya. Bahkan di surga kota pendidikan (Djogja) dapetlah kita jumpai brosur dgn sederet nama top yg mjd guru, yg nyatanya kagak pernah nongol sekalipun bahkan mungkin sampai muridnya lulus.

UU no.20 2003 ttg sistem diknas menyataken bhw pemda berkewajiban menjamin mbayari usia 7-15 taon sepertinya udah menunjukken bahwa pemerintah pusat ogah ngurusin mangsalah ecek2 begitu. Ecek-ecek??
Ditingkat yg lebih tinggi, yakni perguruan nan tinggi (PT) itu telah keluar pengubahan mjd BHMN via PP no.61/99 dan PP no. 153/00. Ini brarti pemerintah menganggap PT udah cukup bisa mandiri. Walau ternyata utk urusan uang, pergguruan tinggi nan berisi orang2 pinter ini misih belum cukup dianggep mandiri. Lha wong misih boleh nyusu selama 5 taon. Ini artinya sekali lagi, pemerintah pusat udah ogah ngurusin mangsalah ecek2.

Lambat laun udah nggak ada lagi yg bakal diurus oleh kementrian pendidikan. Subsidi sudah akan hengkang dari pendidikan. Dus ini artinya lembaga pendidikan musti bisa menghidupi diri sendiri. Pendidikan sudah bergerak kearah ‘komersial’. Harus!!.
Itu kalau mau idup.

Ditunggu konglomerat pendidikan.
Welkam kapitalism….. Gud bae departemen pendidikan nan bikin boros…

1 Komentar

  1. saeni said,

    menurutku pendidikan kita hanya berbasis pada Intelektual murni, maka ketika dibenturkan pada realitas kebanyakan tidak bisa ambil peran yang maksimal, biasanya untuk usia didik didaerah tertentu mental tidak punya dan cenderung dimonopoli oleh guru didik yang sehingga murit tidak bisa berkreasi dan sama sekali jauh dari kata produktif untuk daerah kami. dan saya sama sekali tidak setuju ketika guru terlalu dimanja karna itu akan menghilangkan kreatifitas guru dan gurupun akan bodoh karna tidak mau berfikir untuk mengembangkan miri dan muritnya untuk menghadapi globalisasi yang tidak sama dengan diruangan kelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: