Mengubah PHK Sebagai Titik Balik Menjadi Investor atau Pengusaha

April 2, 2007 at 3:16 am (Investasi dan Saham)

Pada umumnya, perasaan pertama yang menyelimuti karyawan yang baru kena PHK adalah rasa was-was dan beban psikologis yang dikenal dengan post power syndrome. Beban psikologis ini muncul karena adanya kekuatiran dan kegelisahan berlebihan yang ujungnya berubah menjadi ketakutan yang selalu bergayut dalam pikiran dan geraknya. Kekuatiran ini dapat berupa suramnya masa depan, jatuh dalam kemiskinan, beban tanggungjawab atas kehidupan keluarganya, atau hilangnya posisi sosial kemasyarakatan (status sosial) yang telah diperolehnya sewaktu masih bekerja, dsb. Kegelisahan dan ketakutan ini terus-menerus melintas silih berganti dalam pikiran sehingga pada akhirnya akan terjadi perubahan perilaku, misalnya cepat tersinggung, pemarah, sangat pelit, pemalu, ringan tangan , pemabuk ataupun berbuat kriminal.

Seperti halnya kanker, beban psikologis ini menjadi kompleks dan akumulatif membebani secara sistematik bila telah lama berjangkit dan tidak segera melakukan langkah-langkah pencegahan atau upaya mengatasinya. Oleh karena itu secara dini marilah kita coba telaah langkah-langkah yang dapat dijalankan setelah terkena PHK.

Revaluasi prioritas kebutuhan keuangan

Umumnya, karyawan hanya tergantung income pada gaji bulanan dari tempatnya bekerja. Terhentinya kontinuitas pemasukan merupakan akibat pertama dari peristiwa PHK. Rentetan berikutnya adalah sebuah pertanyaan, “Sampai kapan keadaan tanpa penghasilan tersebut akan berlangsung?”. Disisi lain pengeluaran tidak dapat serta-merta dapat disesuaikan. Tagihan bulanan (listrik, telepon, PAM), kebutuhan rumah tangga (makan, minum, cuci, transport), tunggakan kredit (rumah, mobil, asuransi), dsb tetap saja akan mengejar. Gaya hidup yang telah terbentuk saat masih bekerja sangatlah sulit untuk dirubah. Gaya hidup ini dapat berupa pola makan, pola belanja, penggunaan transportasi, preferensi pakaian dan alat rumah tangga, atau pola hidup sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu diperlukan kearifan dan keikhlasan dalam menyusun kembali skala prioritas kebutuhan keuangan.

Hasil dari penyusunan ini tentu akan berbeda antar masing-masing individu karena perbedaan kualitas dan kuantitas kebutuhan dan ketersediaan dana. Pada dasarnya prioritas dapat disusun dengan mendasarkan pada nilai penting kebutuhan ataupun efek buruk yang ditimbulkannya bila dikurangi atau di singkirkan.

Ada hal yang sangat mudah untuk dinilai namun ada yang perlu pertimbangan mendalam untuk hal lain. Dibanding untuk membeli suplemen maka membeli susu anak balita jauh lebih penting. Ini lebih mudah dibanding dengan penilaian ‘lebih penting mana’ antara kursus tambahan sekolah anak dan kursus menjahit. Pertimbangan disini harus mengingat hasil efektif yang akan diperoleh dan juga periode waktu. Dalam masa tanpa income ini kursus menjahit dapat digunakan dengan segera untuk mendapatkan pendapatan. Diharapkan selain dapat menopang hidup juga dapat untuk kursus tambahan anak. Dengan demikian kursus menjahit memili nilai penting lebih besar.

Pengaruh/ dampak mengemplang kredit motor akan jauh lebih buruk dari pada mengemplang utang mertua. Ini karena motor bisa ditarik paksa oleh pihak agen pembiayaan, sedangkan kasus utang mertua dapat di rescheduling dengan pendekan ‘dari hati ke hati’ (nek mertuane baek hati siih…).

Revaluasi Aset-aset valuable

Yang dimaksud revaluasi asset valuable adalah menilai ulang seluruh harta yang dapat dijual sesuai harga pasar dan menjumlahkan dengan seluruh kas, tabungan dan juga pesangon. Hasil penjumlahan total ini disebut Harta kekayaan. Revaluasi ini untuk mengetahui total kekayaan yang dimiliki yang funsi utamanya guna mengukur ketahanan keuangan dan kemampuan menahan resiko saat melakukan investasi. Termasuk revaluasi disini yakni penetapan prioritas aset yang akan dilikuidasi.

Penetapan ulang perencanaan Income dan Pengeluaran

Perencanaan ulang income dan pengeluaran sangat diperlukan sebagai panduan karena adanya perubahan kebiasaan/ gaya hidup dan keterbatasan sumber dana. Cakupan perencanaan ini haruslah menyentuh kedua sisi baik perencanaan income maupun perencanaan pengeluaran yakni dana operasional (hidup sehari-hari), dana pembayaran utang, dana kebutuhan mendesak lain, dana modal investasi dan juga perkiraan pemasukan.

Pengukuran ketahanan keuangan dan resiko

Pada dasarnya pengukuran ketahanan keuangan ini merupakan penyesuaian atas biaya kebutuhan dan ketersediaan dana. Pengeluaran untuk biaya kebutuhan harus sesegera mungkin ‘disesuaikan’, dengan meminimalkan cost of living. Pengetatan pengeluaran ini akan secara drastis merubah pola hidup yang konsumtif menjadi pola hidup hemat, bahkan diharapka bisa sampai menurunkan kualitas kebutuhan (belanja ke pasar tradisional, misalnya). Perhitungan dapat dengan mudah dan cepat dilakukan bila sebelumnya telah melakukan revaluasi prioritas kebutuhan dan revaluasi aset valuable, karena keduanya akan membentuk dua sisi yang akan saling mempengaruhi.

Setelah revaluasi dana kebutuhan dan revaluasi aset maka akan diketahui ketahanan finansial (keuangan) saat menganggur. Ketahanan keuangan ini akan menjawab pertanyaan “Berapa lama kita dapat membiayai roda kehidupan tanpa mendapat income?”, jadi dapat sebagai parameter waktu atas usaha ‘mendapatkan kembali’ income.

Ketahanan resiko merupakan kemampuan keuangan menerima kegagalan atas usaha-usaha mendapatkan kembali income. Jadi resiko investasi dan wiraswasta seharusnya juga memperhitungkan ketahanan keuangan ini. Setiap kegagalan investasi atau wiraswasta akan memperlemah ketahanan keuangan karena akan mengurangi jangka waktu atas ketersediaan dana.

Mengembangkan pendapatan dimasa mendatang.

Seringkali karena sudah terfokus semenjak sekolah untuk menjadi pegawai, maka pengembangan diri juga terbatas pada karir sebagai karyawan. Sesungguhnya selain menunggu mendapatkan kerja, dapat juga melakukan investasi atau wiraswasta guna memperkecil rentang waktu keadaan tanpa penghasilan. Memang untuk ini diperlukan kecukupan sumberdaya manusia, sikap mental, dan sedikit ketersediaan dana.

Kecukupan sumberdaya manusia tidak harus selalu dengan mencari atau hal-hal yang baru. Seringkali pengetahuan lama dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai dasar wiraswasta. Ini dapat dilakukan dengan berangkat dari hal-hal yang paling mudah di sekeliling kita. Kendala utama seringkali justru berasal dari sikap mental. Seperti disebutkan terdahulu, fokus untuk menjadi pegawai ini haruslah di’bongkar’ ulang.

Sumber-sumber ketersediaan dana lain.

Sumber-sumber dana ini selain untuk menambah ketahanan keuangan juga untuk meningkatkan recovery asset pada saat dilikuidasi (dijual).

Diusahakan sumber dana merupakan dana murah jangka panjang. Lembaga keuangan maupun non lembaga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, misalnya bank, BPR, pegadaian, koperasi, atau arisan. Secara jangka waktu lebih panjang pengetahuan mengenai sumber-sumber ketersediaan dana ini dapat juga dimanfaatkan dalam pengembangan investasi dan wiraswasta.

Langkah Investasi

Upaya mendapatkan pekerjaan dengan melalui berita lowongan di media atau lewat koneksi seringkali tidak dapat dipastikan jangka waktu keberhasilannya. Sedangkan dewasa ini bunga perbankan terlalu kecil untuk ladang pengembalaan uang, bahkan cenderung tergerus oleh biaya, pajak dan inflasi. Oleh karena itu langkah antisipatif terbaik adalah dengan melakukan investasi atau wiraswasta. Investasi memiliki beberapa ciri-ciri antara lain: investasi aman akan memberikan hasil yang rendah dan investasi beresiko akan memberikan hasil yang tinggi. Dalam hal jangka waktu pemberian hasil, investasi dapat bersifat jangka panjang, menengah atau jangka pendek.

Berbeda dalam kondisi keuangan aman saat masih bekerja, para pencari kerja lebih memerlukan kas, guna menopang kesehariannya. Oleh karena itu investasi mesti diarahkan guna mendapatkan kas yang lebih cepat sebisa mungkin diupayakan teratur/rutin, dan beresiko rendah.

2 Komentar

  1. cory said,

    saya mau minta lebih jauh tentang revaluasi asset khususnya dampaknya pada pajak… saya mau bikin skripsi tentang revaluasi asset tapi masih bingung nyari fenomena yang terjadi..makasih

  2. iwang said,

    kalau artikel asset pricing sih ada…
    tapi kalau dampak revaluasi asset thd tax ndak punya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: