Kebebasan Finansial ala Petani

April 4, 2007 at 7:59 am (Investasi dan Saham)

Dambaan terhadap “kebebasan finansial” tidak saja milik orang-orang dari negara maju, tapi juga para eksekutif muda negara kita. Mereka menginginkan kerja yang menghasilkan uang –luarbiasa- banyak dan akhirnya bisa menikmati hasil kekayaannya ketika masih muda. Pergi berlibur nonstop misalnya ke Hawai, pagi jalan santai, sore renang, malam ke kafe. Atau bisa ikut tour ala “Wild On” (dugem dan aksi erotisss).
Suatu impian yg indah nikmat…

Bekerja dengan hasil bulanan ‘secuil’ sampek tuek tentu menjenuhkan dan juga tidak critonable (gak enak jadi tema omongan). Lagian kapan menikmati hasil kerjanya, lha wong kerjo terus?

Pernah lihat kan nenek petani tuek yg buyuten masih tetep saja mencari kayu bakar? Atau nelayan tua kriput mangsih berlayar cari ikan di malam hari?
Inilah salah satu kunci pendorong kebebasan finansial, …. Yakni pengin masa tua makmur bin sejahtera. Nggak perlu stres mikir penghasilan lagi….!

Berbagai cara percepatan pertumbuhan kekayaan diri dilakukan oleh para (& calon) eksekutif muda, mulai dari kerja di sektor basah, investasi dgn high risk high yield, spekulasi, judi, bahkan sedikit sikut dan caplok (korupsi). Kerja smart, investasi smart…begitu katanya!.
Dan syahdan kata orang2 pinter IT, internet pun jadi banyak sampah. Sampah pemburu kebebasan finansial, yg memberikan iming-iming palsu…..

Ada kisah menarik utk disimak.
Bermula dari seorang Konglomerat ternama yg mampir ke jogja guna melihat kemajuan pertanian. Terlihatlah dua orang petani tengah asyik mengobrol, udud (merokok) dan ngopi di pinggir sawah.
Sontak konglomerat itu mendatangi dan memarahi mereka “ He kamu berdua!, seharusnya kalian kerja keras, kemudian hasilnya ditabung sehingga kamu bisa menikmati hasilnya seperti saya ini. Kaya raya. Bisa jalan-jalan, udud dan ngopi. Bisa santai. Kamu ngerti !!!”
Petani : “Lha Bapak lihat.. saya lagi ngapain? Kami sedang santai!”

Atas jawaban itu, sang konglomerat menjadi mangkel, bingun dan tandatanya besar memenuhi kepalanya…
Petani: “ Bpk konglomerat yg baek.., kalau cuman mau santai…. kenapa musti susah-susah nunggu sampai tua?. Sekarang pun kami bisa menikmati hasil jerihpayah kami. Dan juga tdk melupakan tanggungjawab mencari rejeki. Kami bersantai sambil menunggu sawah. Masih kurang faham?”

Syahdan sejak itu …konglomerat itu tak pernah lagi tampak batang hidungnya di jogja.

Kebebasan finansial akhirnya diterjemahkan berbeda. Dari sisi konglomerat, sudah umum bhw pengartiannya persis plek negara kapitalis. Segala kebutuhan kepuasan hidup saat menjelang tua sepenuhnya ditunjang dgn mesin2 ekonomi yg dimilikinya. Apakah via perusahaan bentukannya, atau berbagai deviden investasi, saham atau uang preman (hsl franchise, royalti atau hak paten misalnya) atau bunga/deposito bank (gak pakai.. al). Semangkin gede hsl portofolionya semangkin leluasa poya-poyanya kelak.

Lantas bagaimana dgn petani tsb? Hasil sakcuil, kerjo sampek tuek..kewek gak pernah sampai bebas finansial. ?

Umumnya finansial daitangkap sebagai uang, logam mulia, dan asset lain sebangsanya. Jadinya kebebasan finansial adl suatu penjaminan dapat hidup sejahtera di hari tua tanpa bekerja lagi dgn bersandar pd kekayaan sebangsa uang (inflow dan valuasinya). Putaran ini sudah teramat lazim di dunia barat bin londo.

Mari kita tengok beda pandangan atas dua hal dulu, yakni Imbal Hasil dan konsepsi kekayaan.

Klirumologi thd Return
Dlm suatu investasi atau apapun, abnormal return dp dicapai hanya pd sektor yg belum matang (industri baru, masa pertumbuhan, langka) dan/atau kondisi fluktuasi (dgn sebab apapun), misalnya penemuan emas, inflasi luar biasa, naik harga scr luarbiasa, perubahan trend dll. Selain hal tersebut, kondisi return akan normal atau sedikit diatas normal. Dlm jangka panjang return investasi akan mendekati nilai nol, krn harga produk secara jangka panjang akan mendekati biaya produksi.
Berharap setiap orang akan mendapatkan kekayaan finansial luar biasa diusia dini adalah hal yg muskil.

Konsepsi Uang dan Kekayaan
Sudah lazim pula di dunia barat/londo, harga diri dan jaminan hidup identik dgn uang (kekayaan laen diuangken saja ben gampang nulise). Walau telah menyeret banyak kalangan di dunia timur, tapi tidaklah sepenuhnya diterima dengan sandaran spt itu. Nilai2 komunitas sosial, kekerabatan, dan budaya masih sangat kental dan dipelihara di dnia timur. Nilai uang tereduksi dgn sisi kepandaian dan ketokohan, pergaulan, penilaian budaya, sosial, dan kemunculan sifat2 mulia pd kedirian.

Bagaimana menurut Anda?
Setujukah dgn pendapat para petani itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: