Mengenang Setahun Gempa di Jogja 27 Mei 2006

Juni 7, 2007 at 5:32 am (Opini)

Mengenang Setahun Gempa di Jogja 27 Mei 2006

Minggu tgl 27 Mei 2007 tepat ‘nyetahun’ peristiwa gempa besar di Bantul Jogja. Sebenarnya ada rasa nggak enak juga bila mengingat-ingat peristiwa sedih itu, tapi bisa buat nambah-nambah cerita yang memang telah banyak berserakan ini.

Dua minggu sebelum nyetahun itu aku sempat ketemu seorang sesama korban gempa jogja yang ‘untungnya’ rumahnya hanya rusak sedang, sehingga dgn technologi ’suntik’ tembok dan rumah tetap bisa berdiri. Sambil menunggu kereta yg akan membawa ke Jogja, beliau berkeluh kesah yang ‘nggrantes’ bhw beliau tidak mendapatkan kucuran dana babar blas. “Wah, yo di trimak-trimakke wae yo bos….” Bathinku. Lha wong aku wae ora oleh kok, maklum sak induk semang karo mertua.

Sudah jadi tradisi di Jogja peristiwa setahun meninggalnya seseorang diperingati dengan “bancakan”. Nah karena korban meninggal kena gempa cukup banyak, maka peristiwa nyetahun gempa di mBantul itu juga banyak undangan bancakan. Kalau dibiarkan, bakal banyak ‘peserta’ bancakan kebingungan kan…. lha wong terima undangan di beberapa tempat sekaligus. Pripun jal? Agar praktis, bancakan di dukuh ku di jadikan satu di masjid samping rumah.

Meski aku ndengerin ceramah di mesjid dari tendaku yg memang di samping deket masjid, saat ceramah di masjid itulah aku terhanyut detik-detik peristiwa gempa. Lha siapa sangka, malam harinya (dan bahkan hari-hari sebelumnya) aku dan Daffa (5 th) masih menjadi pengamat Gunung Merapi gadungan. Hehehe… ya memang saat-saat itu Gn Merapi sering mengeluarkan lahar dan bergemuruh, bahkan penduduk sekitar sudah banyak yang mengungsi.

Malam itu karena kecapean jadi pengamat Merapi aku ketiduran di kasur depan kamar tanpa pake baju, sementara keluarga ngumpul tidur dalam kamar. Menjelang pagi aku kedinginan dan pindah ke dalam kamar tidur bareng Daffa. Sementara Fadia (2 thn) sudah bangun di gendong sama Eyang Putri di dapur. Tampaknya Mamanya Daffa-Fadia yg terbangun nggak meneruskan tidur lagi, tapi bikin kesibukan di belakang sono. Pintu samping, jendela dan pintu kamar dibiarkan terbuka. Entah lupa atau agar udara pagi masuk.

Jam sepagi gitu biasanya Daffa dan Fadia sudah bangun dan mainan bareng di ruang TV. Tapi karena Daffa capek maen sampai malam maka pagi itu masih molor dalam pelukanku.
Saat itulah dunia berguncang…. Dunia bergemuruh!.
Ya saat itulah terjadi gempa besar di Bantul dan Klaten.

Aku segera terbangun menyadari telah terjadi gempa, dan dengan sangat ribet aku gendong (tepatnya aku seret) Daffa dari tidurnya. Sayangnya gempa terlalu besar!. Dengan susah payah aku mencapai depan pintu kamar yg dekat dgn pintu samping. Tempat itu, menurut perhitungan bathinku, paling aman dari keruntuhan. Disamping barat ada buffet dan sebelah timur ada box bayi dari jati, sementara di samping pintu jati itu ada soko bata.

Sayup-sayup aku dengar suara takbir, dan tahmid. Sementara suara gemuruh di luar terdengar sangat mencekam, dan kabut cukup tebal menutup pandangan ke sawah sebrang rumah. Aku tak beranjak dari posisiku. Aku lihat Eyang Putri berlari tergopoh-gopoh menggendong Fadia, terjebak di kandang Mentog. Aku sempat memberi arahan agar Eyang Putri tidak berdiri dibawah pohon kelapa, takut kejatuhan.

Di jalan orang2 berlarian, termasuk adik iparku Ifa. Dengan cepat aku berhitung, jumlah anggota keluarga yg belum tahu nasibnya yaitu Eyang Kakung, Mama nya Daffa Fadia, dan Mbah Buyut!.
Hah…! Mamanya Daffa-Fadia? Kemana dia?!
Emang dia paling mobile alias gonta-ganti lokasi. Bisa saja dia cuci baju, mandi, njemur baju, nyapu, ngepel, masak atau belanja di warung. Wah senewen aku, njuk aku musti cari kemana secepatnya?!.
Saat itu genting dan plafon sudah berguguran, atap bahkan mulai runtuh. Lemari juga sudah ngglimpang, tembok bongkah berguguran. Aku kebingungan memutuskan mencari Mama nya Daffa-Fadia sambil menggendong Daffa atau kutinggal dia di samping box. Lha kalau ketimpa genting piye? Nek ketimpa tembok gimana coba?

Di dalam rumah kudengar Eyang Kakung teriak2 sambil berlari2 memanggil Ifa agar keluar rumah. Welah, lha wong Ifa sudah di jalan kok mbalah dicari di dlm rumah…

Pening, bingung, putus asa aku terdiam di tempat. Saat itu aku pikir, berlari juga percuma. Gempa tersebut saat itu aku perkirakan disebabkan efek letusan Merapi yang dahsyat sampai ke mBantul di Selatan. Dan gemuruh tersebut tentunya karena materialnya berjatuhan di mBantul maka sangat sedikit tempat yg aman.

Gempa tak juga mereda, tetapi seakan bertambah kencang dan rasanya seperti di goyang-goyang terus di lempar seperti orang memilahkan beras dgn kulitnya itu lho. Tembok diatas kepalaku dan diseputar ruangku sudah mulai pecah, eternit sudah nyaris habis rontok. Ketika itulah Mamanya Daffa-Fadia muncul dgn memakai celana panjang dan berbalut handuk. Dengan sangat terbata-bata dan sangat ketakutan ia minta aku temani memakai pakaian. Begitu takut dan bingungnya sampai Ia terus memanggil-manggil dan bergerak dlm kegelisahan. Saat itulah kudengar suara keras berdentam di belakang rumah dan dapur.

Akhirnya Daffa dan Mamanya berhasil keluar rumah, disaat gempa mulai mereda. Banyak orang diluar kebingungan. Segera aku kumpulkan mereka di tempat terbuka, kusediakan minum dan makan serta alas duduk. Aku terpaksa kluar masuk rumah yg sudah rusak parah itu guna mempersiapkan keperluan orang2 dan terutama keluargaku, termasuk kendaraan.

Setelah itulah aku segera memberi kabar ke Ortu dan orang terdekat bhw telah terjadi gempa besar dan kami selamat.

Dan setelah itu aku sibuk memberi pertolongan para korban gempa. Nyaris semua rumah rubuh, nyaris semua orang terluka, nyaris semua orang shock… Sibuk, sangat sibuk ketika tiba-tiba….
“Tsunami, tsunami…!!!” Teriak orang-orang kampung sambil berlarian.
Aku tak percaya, dan terus saja mengumpulkan pakaian, makanan dan uang yg (mungkin) akan keluargaku pakai dlm jangka pendek mengingat rumah berantakan. Aku terkejut ketika keluarga sudah berlarian semua. Bubar. Sepi. Tinggal aku seorang diri.

Ketika Ifa balik lagi kerumah (krn bingung lari kemana) dengan menahan tangis menyuruhku berlari bersama-sama. Dengan cepat kukeluarkan dua motor dan kusuruh Ifa mengikutiku, planningku ‘lari’ via wates menghindar sergapan lahar Merapi. Akhirnya setelah berhasil menyusul dan mengumpulkan keluarga yg lari berceceran dijalan, kami ‘terdampar’ di mushola kenalannya mertua di wilayah Godean.

Sejak itu aku pulang balik antara godean- mBantul sampai beberapa hari, mungkin minggu. Sampai gempa benar-benar reda.

Semoga Kesehatan, Kesejahteraan dan Kemuliaan menyertai kita semua.
Salam,

Data dari bantul.go.id
Korban meninggal 4.143 dan mengungsi 779.287 jiwa

BERITA GEMPA BUMI BANTUL TSB DIRILIS BMG DGN ANEKA “VARIAN”:

BERITA GEMPABUMI
No. : 67 /NSC/V /2006

1. Telah terjadi GEMPABUMI TEKTONIK
Pada hari : Sabtu, 27 Mei 2006
Waktu gempa : 05:54:00.0 WIB
Pusat gempa : 8 LS – 110.31 BT
Kedalaman : 11.8 Km
Kekuatan : 5.9 Skala Richter
Keterangan : Pusat gempa berada di laut 37.2 km selatan jogjakarta
Dirasakan disekitar:
Solo : IV – V MMI
Klaten : VI-VII MMI
Semarang : II – III MMI
Surabaya : II – III MMI
Karangkates : III – IV MMI
Jogjakarta : VI-VII MMI
*MMI= Modified Mercally Intensity

2. Demikian Berita Gempabumi yang dapat kami sampaikan untuk dipergunakan
sebagaimana mestinya

Jakarta, 27 Mei 2006
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
Ka. HUMAS Ttd

EDISON GURNING

BERITA GEMPABUMI
No. : 68 /NSC/V /2006

1. Telah terjadi GEMPABUMI TEKTONIK
Pada hari : Sabtu, 27 Mei 2006
Waktu gempa : 08:07:43.0 WIB
Pusat gempa : 8.4 LS – 109.9 BT
Kedalaman : 33 Km
Kekuatan : 5.2 Skala Richter
Keterangan : Pusat gempa berada di laut 80.5 km Barat Daya Yogyakarta
Dirasakan disekitar:
Jogjakarta : II – III MMI
*MMI= Modified Mercally Intensity

2. Demikian Berita Gempabumi yang dapat kami sampaikan untuk dipergunakan
sebagaimana mestinya

Jakarta, 27 Mei 2006
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
Ka. HUMAS Ttd

EDISON GURNING

BERITA GEMPABUMI
No. : 69 /NSC/V /2006

1. Telah terjadi GEMPABUMI TEKTONIK
Pada hari : Sabtu, 27 Mei 2006
Waktu gempa : 10:10:03.0 WIB
Pusat gempa : 8.55 LS – 110.15 BT
Kedalaman : 33 Km
Kekuatan : 4.9 Skala Richter
Keterangan : Pusat gempa berada di laut 89 km barat daya Jogjakarta
Dirasakan disekitar:
Jogjakarta : II-III MMI
Klaten : II – III MMI
*MMI= Modified Mercally Intensity

2. Demikian Berita Gempabumi yang dapat kami sampaikan untuk dipergunakan
sebagaimana mestinya

Jakarta, 27 Mei 2006
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
Ka. HUMAS Ttd

EDISON GURNING

BERITA GEMPABUMI
No. : 70 /NSC/V /2006

1. Telah terjadi GEMPABUMI TEKTONIK
Pada hari : Sabtu, 27 Mei 2006
Waktu gempa : 11:21:53.0 WIB
Pusat gempa : 8.46 LS – 110.14 BT
Kedalaman : 33 Km
Kekuatan : 4.7 Skala Richter
Keterangan : Pusat gempa berada di Laut 79 km Barat Daya Yogyakarta
Dirasakan disekitar:
Klaten : II – III MMI
Jogjakarta : II – III MMI
*MMI= Modified Mercally Intensity

2. Demikian Berita Gempabumi yang dapat kami sampaikan untuk dipergunakan
sebagaimana mestinya

Jakarta, 27 Mei 2006
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
Ka. HUMAS Ttd

EDISON GURNING

1 Komentar

  1. Swastaji said,

    gempa bumi di jogjakarta mei 2006 lalu mengapa terasa begitu besar ? padahal hanya berkekuatan 5.9 Sr.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: